Kamis, 01 Agustus 2013

Analisis Puisi Terjemahan : Miłość od pierwszego wejrzenia (Love at The First Sight) - Wisława Szymborska

Baru-baru ini saya mendapat tugas dari guru sastra Indonesia saya untuk menganalisis puisi terjemahan yang berjudul Love at The First Sigh. Puisi ini adalah buah karya Wislawa Szymborska, seorang sastrawan asal Polandia yang telah banyak memperoleh penghargaan nobel.

Wislawa Szymborska
sumber : google.com


Puisi aslinya ditulis dalam bahasa Polandia tentunya.
Ini dia wujud asli puisinya :


Wisława Szymborska, Miłość od pierwszego wejrzenia

Oboje są przekonani,
że połączyło ich uczucie nagłe.
Piękna jest taka pewność,
ale niepewność piękniejsza.

Sądzą, że skoro nie znali się wcześniej,
nic między nimi nigdy się nie działo,
A co na to ulice, schody, korytarze,
na których mogli się od dawna mijać?

Chciałabym ich zapytać,
czy nie pamiętają -
może w drzwiach obrotowych
kiedyś twarzą w twarz?
jakieś “przepraszam” w ścisku?
głos “pomyłka” w słuchawce?
- ale znam ich odpowiedź.
Nie, nie pamietają.

Bardzo by ich zdziwiło,
że od dłuższego już czasu
bawił się nimi przypadek.

Jeszcze nie całkiem gotów
zamienić się dla nich w los,
zbliżał ich i oddalał,
zabiegał im drogę
i tłumiąc chichot
odskakiwał w bok.

Były znaki, sygnały,
cóż z tego, że nieczytelne.
Może trzy lata temu
albo w zeszły wtorek
pewien listek przefrunął
z ramienia na ramię?
Było coś zgubionego i podniesionego.
Kto wie, czy już nie piłka
w zaroślach dzieciństwa?

Były klamki i dzwonki,
na których zawczasu
dotyk kładł się na dotyk.
Walizki obok siebie w przechowalni.
Był może pewnej nocy jednakowy sen,
natychmiast po zbudzeniu zamazany.

Każdy przecież początek
to tylko ciąg dalszy,
a księga zdarzeń

zawsze otwarta w połowie.


Nah, untuk mempermudah tugas analisis puisi, saya telah diberikan versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia :

Wislawa Szymborska, Cinta Pada Pandangan Pertama

Keduanya sama meyakini,
bahwa sebuah gelombang emosi telah mengikat mereka.
Keindahan adalah sebuah kepastian
tapi ketidakpastian, ia jauh lebih indah.

Karena sebelumnya mereka tidak mengetahui satu sama lain,
mereka menduga tiada yang terjadi diantara mereka,
lalu bagaimana dengan dua sisi jalanan, ratusan anak tangga, dan lorong demi lorong,
di mana mereka saling berpapasan jauh di masa sebelumnya?

Aku ingin bertanya pada mereka,
ingatkah pada suatu ketika - 
mungkin saja saat melintasi pintu yang berputar
wajah mereka saling bersua?
sebuah "permisi" di tengah keramaian?
atau seruan "salah sambung" pada sebuah panggilan?
- namun aku tahu jawaban mereka.
Tidak, mereka tak ingat itu semua.

Mereka akan sangat-sangat takjub
untuk mengerti bahwa sekian lamanya
pintu kementakan telah bermain-main dengan mereka.

Sang peluang belum sepenuhnya siap
untuk menjadi takdir bagi mereka,
ia muncul sesaat kemudian mundur seketika,
menghalangi jalan mereka
dan, seraya tertawa nakal
ia melompat ke tepi masa.

Selalu ada tanda demi tanda, isyarat demi isyarat,
tapi apalah artinya? Jika mereka tiada terbaca.
Bisa jadi tiga tahun yang lalu
atau mungkin kemarin Rabu
secarik selebaran tertiup bayu
dari bahu sampai ke bahu?
Ada yang lenyap dan ada yang bertemu
Siapa yang tahu, jika ia adalah sebuah bola
di rimbunnya semak masa kanak-kanak?

Diantara puluhan bel dan gagang pintu
di mana ratusan jejak sentuhan mereka
menumpuk saling bertemu.
Pun ketika koper mereka berdampingan di ruang bagasi.
Mungkin mereka saling berbagi mimpi di malam hari
yang sayangnya terhapuskan di kala pagi.

Setiap mula
adalah keberlanjutan nan niscaya,
dan lauhul mahfudz
tak akan sepenuhnya terbuka.


Bagaimana? Bagus 'kan puisinya? Meski tidak memakai kata-kata kiasan seperti puisi-puisi Indonesia, tapi gayanya yang menceritakan makna secara gamblang malah membuat puisi ini lebih menyentuh hati. Itulah kelebihan puisi luar negeri.

Nah, sekarang mari kita analisis puisinya mulai dari isi atau makna puisi!
Dari puisi yang telah kita baca di atas, dapat kita simpulkan bahwa puisi tersebut menceritakan tentang dua orang yang saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka mengakui bahwa mereka baru pertama kali saling bertemu, padahal sebenarnya mereka sudah berkali-kali bertemu satu sama lain tetapi mereka tidak menyadarinya.
Penulis menceritakan bahwa kedua tokoh utama sebenarnya pernah berpapasan di dua sisi jalan, anak tangga dan lorong. Kemudian saling bersua dalam keramaian dan dalam telepon salah sambung. Tetapi mereka tidak ingat itu semua.
Sebenarnya hal-hal tersebu bukanlah merupakan sebuah kebetulan semata, melainkan telah ditetapkan ileh Tuhan dalam takdir mereka. Tuhan telah menuliskan perjalanan hidup kedua tokoh sehingga secara kebetulan saling bertemu. Hanya saja takdir belum siap untuk benar-benar mempertemukan mereka. Butuh waktu hingga akhirnya sang kedua tokoh tersebut menyadari takdir mereka.

Berikutnya, dari penjelasan isi atau makna puisi di atas kita dapat menyimpulkan bahwa puisi tersebut bertemakan tentang "Takdir Percintaan". Dibuktikan dengan adanya buku yang berisi tentang kisah kedua tokoh utama (lauhul mahfidz) yang telah ditulis oleh Tuhan agar mereka saling bertemu dan kemudian jatuh cinta.

Dari puisi karya Wislawa Szymborska di atas, kita dapat memetik beberapa pelajaran yaitu, kita jadi tahu bahwa kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam hidup kita sebenarnya bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan memang merupakan bagian dari rencana Tuhan. Kemudian, Tuhan telah menuliskan apa-apa saja yang akan terjadi dalam hidup kita, termasuk dalam hal percintaan. Tuhan telah memberika bagi tiap-tiap manusia jodoh yang terbaik untuk mereka.

Wislawa Szymborska dalam menuliskan puisinya, dia begitu optimis dengan pendapatnya. Dibuktikan dengan larik-larik puisi yang terus-menerus meyakinkan pembacanya bahwa sebenarnya kedua tokoh utama dalam puisinya telah bertemu sebelumnya. Sang penulis banyak memberikan bukti seperti kejadian di lorong, anak tangga atau pesawat.

Akhirnya selesai juga pembahasan kita kali ini tentang puisi menakjubkan dari Wislawa Szymborska. ^^
Apabila kalian ingin memberikan tambahan atau komentar, monggoo...
Semoga bermanfaat!

Surat Al-Kafirun Tentang Toleransi Terhadap Umat beragama

Assalamu'alaikum, teman!
Beberapa hari yang lalu sebelum libur lebaran, saya mendapatkan sebuah materi pembelajaran agama Islam yang sangat menarik. Yaitu Surat Al-Kafirun ayat 1-6 yang mengangkat tema tentang "toleransi".

Berikut ini adalah pembahasan tentang surat Makiyyah dalam Al-Qur'an yang ke-109 ini :

قُلْ يٰٓأَ يُّهَا الْكٰفِرُوْنَ (١) لآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ (٢) وَلآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُ (٣) وَلآ اَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْ (٤) وَلآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُ (٥) لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ (٦)  


Artinya :
(1) Katakanlah (Muhammad), "Wahai orang-orang kafir! (2) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (3) Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. (4) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. (5) Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. (6) Bagiku agamaku, dan bagimu agamamu."


Terjemahan Kata
قُل  (katakanlah)
 يٰٓأَ يُّهَا(wahai orang-orang)
 الْكٰفِرُوْنَ(kafir)
 لآ(tidak)
 اَعْبُدُ(aku akan menyembah)
 مَا (apa yang)
تَعْبُدُوْنَ (kalian sembah)
وَلآ (dan bukan)
 اَنْتُمْ (kalian)
 عٰبِدوْنَ (orang-orang yang menyembah)
 مَآ(apa yang)
 اَعْبُدُ(aku sembah)
 اَنَا(aku)
 عَابِدٌ(menjadi penyembah)
عَبَدْتُّمْ(kalian sembah)
 لَكُمْ(bagi kalian)
 دِيْنُكُمْ(agama kalian)
 وَلِيَ(dan bagiku)
 دِيْنِ(agamaku)



Hukum Bacaan yang Terdapat di Dalamnya

Mad Wajib Muttasil : huruf mad bertemu alif dalam satu kata
 يٰٓأَ يُّهَا
Alif-Lam Qmariyah : "alif-lam" bertemu dengan huruf qamariyah, maka dibaca jelas
الْكٰفِرُوْنَ
Mad Jaiz Munfasil : huruf mad bertemu dengan hamzah dalam dua kata
لآ اَعْبُدُ - وَلآ اَنْتُمْ - مَآ اَعْبُدُ - وَلآ اَنَا
Mad 'Aridh Lissukun : mad ashli / mad thabi'i diikuti oleh huruf yang berharakat hidup tapi dibaca mati karena diwaqafkan
الْكٰفِرُوْنَ - تَعْبُدُوْنَ - وَلِيَ دِيْنِ
Ikhfa Haqiqi : nun sukun / tanwin bertemu dengan huruf ikhfa
اَنْتُمْ 
Idgham Bigunnah : nun sukun / tanwin bertemu dengan huruf idgham bigunnah
عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْ
Idzhar Syafawi : mim sukun bertemu dengan huruf selain mim dan ba'
اَنْتُمْ عٰبِدوْنَ - لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
Qalqalah Kubra : bunyi huruf qalqalah yang matinya (sukunnya) karena diwaqafkan
مَآ اَعْبُدُ
Mad Ashliy : setelah huruf mad tidak terdapat hamzah, tasydid atau sukun
مَا تَعْبُدُوْنَ - عٰبِدُوْنَ - اَنَا عَابِدٌ - دِيْنُكُمْ


Azbabun Nuzul

(Diriwayatkan oleh At-Thabarani dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas)
Kaum Quraisy berusaha memperngaruhi Nabi Muhammad SAW dengan menawarkan kekayaan agar beliau menjadi orang yang paling kaya di Makkah dan akan dinikahkan dengan yang dikehendakinya. Orang-orang Quraisy berkata, "Inilah yang kami sediakan bagimu, hai Muhammad, dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan menjelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun." Kemudian Nabi SAW menjawab, "Aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku." 
Maka turunlah Qs. Al-Kafirun ayat 1-6 sebagai jawaban atas peristiwa tersebut.

(Diriwayatkan oleh Abdurrazaq yang bersumber dari Wahab dan Ibnu Munzir yang bersumber dari Juraiji)
Kau kafir Quraisy berkata kepada Rasulullah SAW, "Sekiranya engkau tidak keberatan mengikuti kami (menyembah berhala selama setahun, kami akan mengikuti agamamu selama setahun pula." 
Maka turunlah surat Al-Kafirun sebagai jawaban atas ajakan mereka.

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa'id bin Mina)
Al-Walid bin al-Mughirah, al-'Ashi bin Wa-il, al-Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah SAW dan berkata, "Hai Muhammad! Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami." 
Maka Allah menurunkan surat Al-Kafirun.


Isi Kandungan dalam Qs. Al-Kafirun
  • Penegasan kepercayaan/keyakinan bahwa Tuhan yang disembah Rasulullah SAW dan umatnya itu berbeda dengan Tuhan yang disemba oleh orang-orang kafir
  • Allah SWT menyuruh kepada Nabi Muhammad SAW dan umat Islam untuk tidak mencampuraduk antara kepercayaan kepada Allah SWT degan kemusyrikan
  • Ketegasan penolakan Nabi Muhammad SAW untuk tidak membaurkan keimanan kepada Allah SWT dengan keimanan orang-orang kafir
  • Batas-batas toleransi dalam hal aqidah dan ibadah
  • Umat Islam dilarang mencampuradukkan masalah aqidah dan ibadah
  • Tata cara beribadah dalam Islam ditentukan oleh Rasulullah SAW dengan bimbingan Allah SWT
  • Toleransi hanya dibolehkan dalam hal sosial kemasyarakatan dan hubungan antar manusia (muamalah)
  • Kebebasan bagi siapapun untuk memeluk agama yang menjadi keyakinannya

Pengamalan dalam Kehidupan Sehari-hari Kita
  • Memiliki keyakinan yang kuat akan kebenaran Islam
  • Tidak mencampuradukkan antara aqidah dan ibadah
  • Tidak mencampuradukkan antara kepercayaan kepada Allah dengan kemusyrikan
  • Bertauhid kepada Allah danmenjauhi perbuatan syirik
  • Beribadah dengan ikhlas dan sesuai dengan apa yang Rasulullah SAW ajarkan
  • Menghormati pemeluk agama lain dan tidak memaksakan agama pada orang lain
  • Memberi kebebasan pada orang-orang untuk memeluk agama yang diyakininya

Jadi, begitulah isi dan kandungan ayat dari Surat Al-Kafiru yang baru saja saya pelajari ini. Semoga ilmu yang saya bagikan berguna bagi kalian semua.
Mohon tambahannya jika ada yang masih kurang sebagai pembelajaran kita bersama ^^
Wassalamu'alaikum