Title : November 18th
Chapter : 1 of 1
Genre : Romance, friendship, comedy
Cast : Chiba Ryohei x OC
Author : Kiseki
Disclaimer :
w-inds. bukan milik author seutuhnya, tapi milik para CREw-inds. di seluruh dunia. Hanya saja Ryohei adalah milik author seutuhnya te-he *dihajar CREw-inds.*
P/S : FF ini reupload dari real facebook Kiseki. Dibuat untuk merayakan ulang tahuny Ryohei yang ke-(?) -mohon maaf author memang pelupa- =="
Happy reading! \(^ o ^)/
Namanya
Chiba Ryohei. Laki-laki pendiam itu idola sekolah kami. Meski tidak banyak
bicara tapi dia mudah bergaul, memiliki teman banyak dan ramah. Dia bendahara
II OSIS, ketua klub dance, punya banyak penggemar, dan teman sekelasku.
Laki-laki
ini punya bakat dance yang mengagumkan! Aku pernah mengintipnya sedang
latihan break dance dengan teman-teman klubnya. Dan... SUGOI!!!
Chiba-san wa kakoi ne~
Hampir
saja aku pingsan saat itu! Karena Chiba terlihat benar-benar keren dan
mengagumkan! Dan sejak saat itu aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatiku
ketika melihatnya. Mungkin aku menyukai Chiba Ryohei?
***
Hari
ini sudah mencapai bulan terakhir di musim gugur. Aku suka cuaca seperti ini.
Saat di mana daun-daun bewarna merah dan rontok dengan sendirinya. Kebetulan
tempat dudukku berada di dekat jendela, jadi aku lebih srering memandang ke
luar.
Tapi
perbuatanku itu membuat Mouri-sensei menegurku dengan melempar sebatang
kapurnya tepat ke arah mejaku. Lamunanku pun buyar.
“Yoshinaga
Aki,” panggil Mouri-sensei. “Tolong perhatikan ke depan selama perlajaran.”
“Baik,
sensei.” Ucapku.
Memang
hal yang biasa bagiku ditegur oleh guru. Tapi yang membuatku tidak biasa dan
malu adalah ketika kulihat Chiba Ryohei tersenyum seolah dia menertawaiku. Ya
Tuhan!
***
“Aki-chaaan!”
Suara
melengking yang tidak jauh dari telingaku ini sudah pasti Hanae. Astaga, tidak
bisakah dia mengecilkan volumenya?
“Aki-chan,
ayo ke kantin!” ajaknya sambil menarik lengan kananku.
“Mau
mentraktirku?” kataku.
“Yaah,
aku cuma bawa uang pas.” Katanya. Lalu dia menoleh ke arah perempuan berambut
pendek berkacamata di belakangku. “Mungkin kalau Mii-chan mau mentraktir kita.”
Mendengar
perkataan Hanae, Miki melepas pandangannya dari buku yang dia baca dan menoleh
ke arah kami. “Mau memaksaku?”
Aku
dan Hanae menelan ludah. Sepertinya Miki sedang bad mood ?
“Ahahaha...
Hanya bercanda kok Mii-chan. Mana mungkin aku berani memaksa jawara karate di
sekolah ini?” kata Hanae basa-basi.
Tiba-tiba
Miki berdiri dengan kasar dari bangkunya dan membuat kami terkejut. Dia
berjalan ke arah Hanae dengan wajah datar dan menepuk bahu Hanae. Kulihat Hanae
mulai bergidik. Aku mulai sedikit cemas menghadapi orang yang mudah naik darah
ini.
“Kalian...”
kata Miki. Masih dengan wajah datarnya. “Ayo ke kantin. Kutraktir puding Paman
Sou satu-satu.”
***
Puding
Paman Sou memang puding yang paling enak di sekolah ini. Meskipun harganya
sedikit mahal tapi rasanya tak terkalahkan. Tapi yang disayangkan adalah
persediaannya. Karena umur Paman Sou yang sudah tua, dia tidak dapat lagi
membuat puding sebanyak dulu. Jika kau tidak mau kehabisan, kau bisa memesannya
untuk dirimu. Seperti kami yang selalu pesan puding Paman Sou setiap hari.
“Paman,”
kata Miki sembari mengambil uang dari dompetnya. “Hari ini aku yang traktir
mereka berdua.” Miki menyodorkan uang sejumlah harga puding kami bertiga.
“Hohoho,
kalian beruntung telah pesan sehari sebelumnya karena hari ini pudingnya
benar-benar sudah habis,” kata Paman Sou sambil membuka lemari es di
belakangnya. “Ini, sisa tiga untuk kalian.” Dia menyodorkan tas plastik berisi
tiga cup puding pesanan kami.
“Arigatou,
jii-san.” Hanae menerimanya dengan senyum lebar di bibirnya. Paman Sou
mengangguk.
Selesai
membeli puding, kini saatnya mencari tempat duduk yang nyaman untuk makan. Ketika
kami hendak berbalik, kami dikejutkan oleh tiga orang laki-laki berdiri di
belakang kami. Mereka adalah orang-orang terkenal idola sekolah. Siapa lagi
kalau bukan Tachibana Keita, Ogata Ryuichi dan Chiba Ryohei?
Tung...
tunggu dulu...
Chiba
Ryohei!?
“Paman,
pudingnya masih ada?” kata Tachibana.
“Wah,
maaf. Itu puding terakhir.” Paman Sou menunjuk ke arah tas plastik yang di bawa
Hanae.
“Oh,
begitu,” Tachibana mengangguk kecil. “Kalau begitu kami permisi.”
Mereka
pun berbalik hendak pergi. Dan ketika Chiba berbalik dia tersenyum ke arahku. Ya,
Tuhan! Mimpi apa aku semalam!? Jantungku serasa berhenti dipompa! Nafasku
seperti berhenti berhembus! Hingga rasa-rasanya aku tidak bisa membalas senyum
manisnya! Dan akhirnya aku hanya bisa menampakkan senyum canggungku. Senyum
yang terlihat hanya setengah senyum. Ya, Tuhan! Bodohnya aku! Mengapa aku tidak
bisa tersenyum seperti biasanya? Mungkin dia akan menganggap bahwa aku
membencinya. Aduh! Gawat!
***
Sekolah
sudah usai dan murid-murid sudah pulang ke sarangnya masing-masing. Sekarang
mungkin tinggal aku sendiri dan mungkin ada beberapa anak yang masih sibuk
dengan kegiatan klubnya?
Aku
tidak ada kegiatan klub hari ini. Tidak ada les tambahan. Pelajaran tambahan.
Apalagi kegiatan OSIS –karena aku tidak suka mengikuti kegiatan organisasi.
Tapi aku punya satu alasan mengapa aku belum pulang.
Aku
berjalan menuju kantin. Di sana seseorang dengan celemek putih dan bandana
putih di kepalanya menungguku.
“Paman
Sou.” Panggilku pada orang itu.
“Oh,
akhirnya kau datang Aki-chan. Paman sudah buatkan pesananmu.”
Paman
Sou membuka lemari es yang ada di belakangnya. Dia mengeluarkan tiga cup
puding. Kemudian dia merogoh lemari mejanya dan mengambil sebuah kotak kardus
makanan dan beberapa plastik kecil. Paman Sou membungkus puding itu satu per
satu dengan plastik kecil yang diambilnya kemudian memasukkannya pada kotak
makanan yang bertuliskan : SOU JII-SAN’S PUDDING; SELAMAT MENIKMATI! ^ワ^
“Silahkan!”
katanya sambil menyodorkan kotak berisi pudingnya.
“Terima
kasih, paman. Besok aku pesan lagi ya. Tiga dengan rasa yang sama.”
***
Usai
berkunjung dari tempat Paman Sou, aku pergi ke belakang sekolah. Kulihat sebuah
jendela pada sebuah gedung yang masih menyala. Aku mendekatiknya dan
mengintipnya dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.
Aku
melihatnya, orang itu masih latihan dengan kedua temannya. ‘Orang itu’ sudah
pasti Chiba Ryohei, bersama Ogata dan Tachibana. Mereka selalu latihan bertiga
setelah anggota lainnya pulang. Tidak heran jika kemampuan mereka melebihi
anggota-anggota lainnya.
Karena
hari sudah hampir gelap, terpaksa aku harus pulang dan tidak bisa menonton
latihannya sampai selesai. Aku meletakkan kotak puding yang kubeli dari Paman
Sou di depan pintu. Berharap usai latihan mereka bertiga memakannya. Terutama
Chiba-san.
***
Sudah
hampir seminggu aku melakukannya –meletakkan puding di depan pintu tempat
latihan Chiba dan kawan-kawan. Tentu saja dengan cara diam-diam. Meski
terkadang aku harus pulang terlambat, tapi aku senang melakukannya karena aku
bisa melihat Chiba latihan.
Tidak
ada yang tahu tentang hal ini. Bahkan teman baikku, Hanae dan Miki sekalipun.
Bagaimana bisa aku memberi tahu hal ini kepada mereka? Aku mungkin saja akan
dianggap stalker dan mungkin jika gadis-gadis dari klub penggemar Chiba
Ryohei juga tahu, aku bisa dibakar habis oleh mereka!
Aku
menjalankan hari-hari sekolahku sepeti biasa. Dan seperti biasa juga jika aku
bertemu dengan Chiba Ryohei, aku tidak bisa tersenyum padanya. Memandangnya
saja tidak bisa. Astaga!
Hari
ini aku menghabiskan waktu istirahatku di kelas sendiri karena Miki sedang
mempersiapkan dirinya untuk lomba karate dan Hanae sedang ada rapat dengan
teman-temannya dari klub merangkai bunga. Seperti biasa aku menghabiskan
waktuku untuk melihat ke luar jendela. Menikmati tiap daun yang jatuh
berguguran.
Ketika
aku sedang melamun memandang ke luar, tiba-tiba aku mendengar sesuatu yang
entah mengapa terdengar sangat jelas di telingaku. Padahal asal dari sumber
suaranya ada di pojok belakang kelasku –kumpulan para gadis penggosip pastinya.
“Eh,
kalian ingat tidak besok hari apa?” kata salah seorang gadis.
Teman-teman
yang lainnya diam. Mereka saling memandang satu sama lain.
“Iih,
kalian itu! Masa kalian lupa?” gadis itu mendengus kesal. “Besok kan hari ulang
tahunnya Ryohei!”
Apa?
Besok? Ulang tahunnya Chiba Ryohei? Kau bercanda ya?
Gadis-gadis
yang lain sepertinya mulai ingat. “Kalau begitu kita harus membuat kejutan
untuknya!” Kata seorang gadis lain.
Kejutan?
Kau tidak mengajakku, hah?
Mendengar
pembicaraan mereka, mungkin sekarang bibirku sudah maju lima senti.
“Ayo
kita buat kejutan spesial!” timpal yang lain.
“Ya,
ya, ya! Itu benar!”
“Iya!
Ayo kita buat!”
Gadis-gadis
ini mulai membuatku kesal! Mengapa mereka harus selalu kegatelan sih? Itu
sangat menyebalkan! Lebih baik aku keluar dari sini.
Aku
pun berjalan keluar kelas, dengan wajah kesal tentunya. Mereka terlalu
menyebalkan. Tapi, berkat mereka pula aku jadi tahu kalau tanggal ulang tahun
Chiba adalah besok. Tanggal 18 November.
Tunggu
dulu! Barusan aku bilang ulang tahun Chiba tanggal 18?
Itu
kan...
***
Kemarin
aku terlalu memikirkan tentang tanggal 18 November hingga lupa untuk mengmbil
puding yang aku pesan dari Paman Sou. Mungkin paman Sou akan sangat marah
padaku karena membuatnya menungguku tetapi aku tidak datang.
Dan
sialnya lagi, aku terlalu bingung memikirkan kado untuk Chiba hingga akhirnya
aku lupa membelinya. Argh! Sial! Kenapa aku bisa sekikuk ini!?
Dan
satu lagi! Hari ini adalah... 18 November!
Astaga!
Aku tidak membawa kado atau apapun untuk diberi. Kecuali... Puding Paman Sou!
Ya, benar! Puding yang paling lezat itu mungkin bisa menjadi hadiahku untuknya.
Aku yakin Chiba pasti suka sekali dengan puding itu!
***
Seperti
biasa, usai semua kegiatan di sekolah selesai aku langsung melesat ke kantin
tempat di mana Paman Sou berada. Kuharap dia belum pulang dan menyisakan tiga
puding untukku.
Sesampainya
di sana aku melihat seorang laki-laki dengan celemek putih dan bandana putih di
kepalanya yang tidak lain adalah Paman Sou. Sepertinya ia sedang bersih-bersih
dan hendak pulang. Aku menghela nafas lega karena dia masih di sana. Dengan
segera aku langsung menghampirinya.
“Paman
Sou.” Kataku memanggilnya.
“Oh,
Aki-chan!” dia tersenyum lebar melihatku datang. “Kenapa kemarin tidak datang?
Paman menunggumu sangat lama kemarin.”
“Maaf,
paman,” kataku dengan nada penuh penyesalan. “Ada sedikit masalah kemarin
hingga aku lupa mengambil pesananku. Sekali lagi aku mohon maaf karena membuat
paman menunggu hingga malam.” Aku membungkukkan badan. Menyesal karena telah
membuat orang tua yang sangat baik ini pulang terlalu malam. Padahal seharusnya
paman bisa pulang lebih awal dan beristirahat yang cukup.
“Ohoho,
tidak apa-apa. Itu bukan masalah. Yang penting kau baik-baik saja sekarang.”
Dia mengambil tas plastik di lemari esnya. “Karena kukira kemarin kau sakit,
jadi paman pulang dan tidak terlalu malam kok.” Dia meletakkan isinya di dalam
kotak dan menyerahkannya padaku. “Paman buatkan puding yang kau pesan seperti
biasanya hari ini. Hanya untuk berjaga-jaga jika kau datang. Tapi syukurlah kau
datang. Hahaha.”
Aku
tersenyum senang. Orang tua ini benar-benar sangat baik! “Terima kasih paman.
Maaf sudah merepotkanmu.”
***
Usai
membeli puding, seperti biasa aku langsung menuju ke gedung belakang sekolah.
Lampunya masih menyala! Syukurlah dia belum pulang.
Aku
melangkah diam-diam sampai aku mencapai depan pintu. Setelah memposisikan diri
di balik pintu, aku mengintip ke dalam. Tapi aku tidak menemukan siapa-siapa di
sana.
Di
mana Chiba dan kawan-kawan? Apa mungkin mereka sudah pulang? Tapi lampunya
masih menyala dan pintunya tidak dikunci. Atau mungkin mereka sedang ke toilet?
Tapi... Ke toilet bertiga? Mereka tidak homo kan?
Aku
mendesah nafas kecewa. Bingung harus melakukan apa, aku pun memutuskan untuk
pulang saja. Tapi ketika berbalik, aku dikejutkan dengan kehadiran seseorang di
belakangku.
“Chiba-san?”
sekarang aku mulai bisa merasakan darahku berhenti mengalir.
“Yoshinaga-san?
Apa yang kau lakukan di sini?” katanya sedikit terkejut melihatku. Dia melirik
ke arah kotak yang kubawa. Sepertinya dia mulai menyadari sesuatu. “Jadi,
selama ini kau yang mengirim puding-puding itu?”
Aku
menunduk malu. Rasanya seperti baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu
yang salah.
“Terima
kasih,” katanya. Aku mendongakkan kepala. Kulihat dia menyunggingkan senyum
lebarnya padaku. “Kami bertiga sangat suka puding Paman Sou, tapi selalu
kehabisan jika ingin beli. Sejak kau mengirim puding-puding itu untuk kami,
kami jadi sangat senang sekali.”
Aku
tersenyum padanya. Meski aku tidak tahu pastinya aku tersenyum dengan wajah
seperti apa. Mungkin sekarang wajahku sudah seperti kepiting rebus? Dan sampai
sekarang aku masih saja diam membisu. Aku mungkin terlalu gugup untuk berbicara
padanya. Apalagi ini kali pertama aku berbicara langsung di depan seorang Chiba!
“Tapi,”
katanya. Aku kembali menatapnya. “Mengapa hanya rasa coklat yang kau beli? Itu
kan,” aku melihat pipinya mulai memerah. “Kesukaanku.”
Aku
hanya mengangguk. Masih belum bisa berkata apa-apa. Ya, aku memang sudah
mencari-cari tahu tentang rasa kesukaannya. Kemudian aku teringat dengan
puding yang masih kubawa. Dengan kikuknya aku menundukan kepala dan menyerahkan
kotak berisi puding itu. “Selamat ulang tahun,” kataku pelan. Mungkin Chiba
tidak akan bisa mendengar suaraku.
Aku
tidak bisa melihat wajahnya karena aku terlalu malu. Aku tidak tahu Chiba
memasang wajah seperti apa. Tapi tiba-tiba saja Chiba menarik tanganku dan
mengajakku masuk ke dalam gedung tempat dia latihan.
Aku
mengikutinya saja tanpa menolak. Kemudian dia berhenti di depan tiga buah tas.
Dia melepaskan genggamannya dan mulai merogoh tasnya mencari sesuatu. Setelah
dia mendapatkan apa yang dicarinya, di berbalik ke arahku dan menunjukkan benda
yang baru saja di dapatnya –sebuah teddy bear kecil dibungkus dalam
sebuah plastik kado bermotif bunga dan dengan pita mengikat ujung-ujung plastik
itu ke atas.
“Selamat
ulang tahun, Yoshinaga-san!” seru Chiba dengan senyum mengembang di bibirnya.
Mataku
membelalak hebat mendengar apa yang dikatakannya. Bagaimana dia bisa tahu jika
hari ini juga ulang tahunku?
“Aku
tidak sengaja menemukan biodatamu di buku arsip biodata murid di ruang OSIS.”
Jawabnya. Seolah dia tahu apa yang sedang kupikirkan.
Aku
masih tidak bisa bicara. Masih terkejut dengan apa yang dia lakukan padaku. Dia
mau membuatku mati kehabisan detak jantung ya?
Melihatku
yang tampak kaku, dia menaruh teddy bear yang dibawanya dan mengambil
kotak puding yang dari tadi ada di genggamanku. Di taruhnya kotak puding itu
berseblahan dengan teddy bear-ku.
“Terima
kasih atas pudingnya,” katanya dengan senyum yang bisa membuatku mati sedikit
lagi. Dan tiba-tiba Chiba memelukku dan berkata, “Aku menyukai Yoshinaga-san.
Dan mulai sekarang panggil aku Ryohei, ya?”
Dan
hari ini aku merasa benar-benar akan mati karena bahagia...
-FIN-