Minggu, 19 Januari 2014

[FAN FICTION - W-INDS.] November 18th - Oneshoot

Title : November 18th

Chapter : 1 of 1

Genre : Romance, friendship, comedy

Cast : Chiba Ryohei x OC

Author : Kiseki

Disclaimer : 
w-inds. bukan milik author seutuhnya, tapi milik para CREw-inds. di seluruh dunia. Hanya saja Ryohei adalah milik author seutuhnya te-he *dihajar CREw-inds.*

P/S : FF ini reupload dari real facebook Kiseki. Dibuat untuk merayakan ulang tahuny Ryohei yang ke-(?) -mohon maaf author memang pelupa- =="

Happy reading! \(^ o ^)/

Namanya Chiba Ryohei. Laki-laki pendiam itu idola sekolah kami. Meski tidak banyak bicara tapi dia mudah bergaul, memiliki teman banyak dan ramah. Dia bendahara II OSIS, ketua klub dance, punya banyak penggemar, dan teman sekelasku.

Laki-laki ini punya bakat dance yang mengagumkan! Aku pernah mengintipnya sedang latihan break dance dengan teman-teman klubnya. Dan... SUGOI!!! Chiba-san wa kakoi ne~

Hampir saja aku pingsan saat itu! Karena Chiba terlihat benar-benar keren dan mengagumkan! Dan sejak saat itu aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatiku ketika melihatnya. Mungkin aku menyukai Chiba Ryohei?

***

Hari ini sudah mencapai bulan terakhir di musim gugur. Aku suka cuaca seperti ini. Saat di mana daun-daun bewarna merah dan rontok dengan sendirinya. Kebetulan tempat dudukku berada di dekat jendela, jadi aku lebih srering memandang ke luar.

Tapi perbuatanku itu membuat Mouri-sensei menegurku dengan melempar sebatang kapurnya tepat ke arah mejaku. Lamunanku pun buyar.

“Yoshinaga Aki,” panggil Mouri-sensei. “Tolong perhatikan ke depan selama perlajaran.”

“Baik, sensei.” Ucapku.

Memang hal yang biasa bagiku ditegur oleh guru. Tapi yang membuatku tidak biasa dan malu adalah ketika kulihat Chiba Ryohei tersenyum seolah dia menertawaiku. Ya Tuhan!

 ***

“Aki-chaaan!”

Suara melengking yang tidak jauh dari telingaku ini sudah pasti Hanae. Astaga, tidak bisakah dia mengecilkan volumenya?

“Aki-chan, ayo ke kantin!” ajaknya sambil menarik lengan kananku.

“Mau mentraktirku?” kataku.

“Yaah, aku cuma bawa uang pas.” Katanya. Lalu dia menoleh ke arah perempuan berambut pendek berkacamata di belakangku. “Mungkin kalau Mii-chan mau mentraktir kita.”

Mendengar perkataan Hanae, Miki melepas pandangannya dari buku yang dia baca dan menoleh ke arah kami. “Mau memaksaku?”

Aku dan Hanae menelan ludah. Sepertinya Miki sedang bad mood ?

“Ahahaha... Hanya bercanda kok Mii-chan. Mana mungkin aku berani memaksa jawara karate di sekolah ini?” kata Hanae basa-basi.

Tiba-tiba Miki berdiri dengan kasar dari bangkunya dan membuat kami terkejut. Dia berjalan ke arah Hanae dengan wajah datar dan menepuk bahu Hanae. Kulihat Hanae mulai bergidik. Aku mulai sedikit cemas menghadapi orang yang mudah naik darah ini.

“Kalian...” kata Miki. Masih dengan wajah datarnya. “Ayo ke kantin. Kutraktir puding Paman Sou satu-satu.”

 ***

Puding Paman Sou memang puding yang paling enak di sekolah ini. Meskipun harganya sedikit mahal tapi rasanya tak terkalahkan. Tapi yang disayangkan adalah persediaannya. Karena umur Paman Sou yang sudah tua, dia tidak dapat lagi membuat puding sebanyak dulu. Jika kau tidak mau kehabisan, kau bisa memesannya untuk dirimu. Seperti kami yang selalu pesan puding Paman Sou setiap hari.

“Paman,” kata Miki sembari mengambil uang dari dompetnya. “Hari ini aku yang traktir mereka berdua.” Miki menyodorkan uang sejumlah harga puding kami bertiga.

“Hohoho, kalian beruntung telah pesan sehari sebelumnya karena hari ini pudingnya benar-benar sudah habis,” kata Paman Sou sambil membuka lemari es di belakangnya. “Ini, sisa tiga untuk kalian.” Dia menyodorkan tas plastik berisi tiga cup puding pesanan kami.

“Arigatou, jii-san.” Hanae menerimanya dengan senyum lebar di bibirnya. Paman Sou mengangguk.

Selesai membeli puding, kini saatnya mencari tempat duduk yang nyaman untuk makan. Ketika kami hendak berbalik, kami dikejutkan oleh tiga orang laki-laki berdiri di belakang kami. Mereka adalah orang-orang terkenal idola sekolah. Siapa lagi kalau bukan Tachibana Keita, Ogata Ryuichi dan Chiba Ryohei?

Tung... tunggu dulu...

Chiba Ryohei!?

“Paman, pudingnya masih ada?” kata Tachibana.

“Wah, maaf. Itu puding terakhir.” Paman Sou menunjuk ke arah tas plastik yang di bawa Hanae.

“Oh, begitu,” Tachibana mengangguk kecil. “Kalau begitu kami permisi.”

Mereka pun berbalik hendak pergi. Dan ketika Chiba berbalik dia tersenyum ke arahku. Ya, Tuhan! Mimpi apa aku semalam!? Jantungku serasa berhenti dipompa! Nafasku seperti berhenti berhembus! Hingga rasa-rasanya aku tidak bisa membalas senyum manisnya! Dan akhirnya aku hanya bisa menampakkan senyum canggungku. Senyum yang terlihat hanya setengah senyum. Ya, Tuhan! Bodohnya aku! Mengapa aku tidak bisa tersenyum seperti biasanya? Mungkin dia akan menganggap bahwa aku membencinya. Aduh! Gawat!

***

Sekolah sudah usai dan murid-murid sudah pulang ke sarangnya masing-masing. Sekarang mungkin tinggal aku sendiri dan mungkin ada beberapa anak yang masih sibuk dengan kegiatan klubnya?

Aku tidak ada kegiatan klub hari ini. Tidak ada les tambahan. Pelajaran tambahan. Apalagi kegiatan OSIS –karena aku tidak suka mengikuti kegiatan organisasi. Tapi aku punya satu alasan mengapa aku belum pulang.
Aku berjalan menuju kantin. Di sana seseorang dengan celemek putih dan bandana putih di kepalanya menungguku.

“Paman Sou.” Panggilku pada orang itu.

“Oh, akhirnya kau datang Aki-chan. Paman sudah buatkan pesananmu.”

Paman Sou membuka lemari es yang ada di belakangnya. Dia mengeluarkan tiga cup puding. Kemudian dia merogoh lemari mejanya dan mengambil sebuah kotak kardus makanan dan beberapa plastik kecil. Paman Sou membungkus puding itu satu per satu dengan plastik kecil yang diambilnya kemudian memasukkannya pada kotak makanan yang bertuliskan : SOU JII-SAN’S PUDDING; SELAMAT MENIKMATI! ^ワ^

“Silahkan!” katanya sambil menyodorkan kotak berisi pudingnya.

“Terima kasih, paman. Besok aku pesan lagi ya. Tiga dengan rasa yang sama.”

 ***

Usai berkunjung dari tempat Paman Sou, aku pergi ke belakang sekolah. Kulihat sebuah jendela pada sebuah gedung yang masih menyala. Aku mendekatiknya dan mengintipnya dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.

Aku melihatnya, orang itu masih latihan dengan kedua temannya. ‘Orang itu’ sudah pasti Chiba Ryohei, bersama Ogata dan Tachibana. Mereka selalu latihan bertiga setelah anggota lainnya pulang. Tidak heran jika kemampuan mereka melebihi anggota-anggota lainnya.

Karena hari sudah hampir gelap, terpaksa aku harus pulang dan tidak bisa menonton latihannya sampai selesai. Aku meletakkan kotak puding yang kubeli dari Paman Sou di depan pintu. Berharap usai latihan mereka bertiga memakannya. Terutama Chiba-san.

***

Sudah hampir seminggu aku melakukannya –meletakkan puding di depan pintu tempat latihan Chiba dan kawan-kawan. Tentu saja dengan cara diam-diam. Meski terkadang aku harus pulang terlambat, tapi aku senang melakukannya karena aku bisa melihat Chiba latihan.

Tidak ada yang tahu tentang hal ini. Bahkan teman baikku, Hanae dan Miki sekalipun. Bagaimana bisa aku memberi tahu hal ini kepada mereka? Aku mungkin saja akan dianggap stalker dan mungkin jika gadis-gadis dari klub penggemar Chiba Ryohei juga tahu, aku bisa dibakar habis oleh mereka!

Aku menjalankan hari-hari sekolahku sepeti biasa. Dan seperti biasa juga jika aku bertemu dengan Chiba Ryohei, aku tidak bisa tersenyum padanya. Memandangnya saja tidak bisa. Astaga!

Hari ini aku menghabiskan waktu istirahatku di kelas sendiri karena Miki sedang mempersiapkan dirinya untuk lomba karate dan Hanae sedang ada rapat dengan teman-temannya dari klub merangkai bunga. Seperti biasa aku menghabiskan waktuku untuk melihat ke luar jendela. Menikmati tiap daun yang jatuh berguguran.

Ketika aku sedang melamun memandang ke luar, tiba-tiba aku mendengar sesuatu yang entah mengapa terdengar sangat jelas di telingaku. Padahal asal dari sumber suaranya ada di pojok belakang kelasku –kumpulan para gadis penggosip pastinya.

“Eh, kalian ingat tidak besok hari apa?” kata salah seorang gadis.

Teman-teman yang lainnya diam. Mereka saling memandang satu sama lain.

“Iih, kalian itu! Masa kalian lupa?” gadis itu mendengus kesal. “Besok kan hari ulang tahunnya Ryohei!”

Apa? Besok? Ulang tahunnya Chiba Ryohei? Kau bercanda ya?

Gadis-gadis yang lain sepertinya mulai ingat. “Kalau begitu kita harus membuat kejutan untuknya!” Kata seorang gadis lain.

Kejutan? Kau tidak mengajakku, hah?

Mendengar pembicaraan mereka, mungkin sekarang bibirku sudah maju lima senti.

“Ayo kita buat kejutan spesial!” timpal yang lain.

“Ya, ya, ya! Itu benar!”

“Iya! Ayo kita buat!”

Gadis-gadis ini mulai membuatku kesal! Mengapa mereka harus selalu kegatelan sih? Itu sangat menyebalkan! Lebih baik aku keluar dari sini.

Aku pun berjalan keluar kelas, dengan wajah kesal tentunya. Mereka terlalu menyebalkan. Tapi, berkat mereka pula aku jadi tahu kalau tanggal ulang tahun Chiba adalah besok. Tanggal 18 November.

Tunggu dulu! Barusan aku bilang ulang tahun Chiba tanggal 18?

Itu kan...

***

Kemarin aku terlalu memikirkan tentang tanggal 18 November hingga lupa untuk mengmbil puding yang aku pesan dari Paman Sou. Mungkin paman Sou akan sangat marah padaku karena membuatnya menungguku tetapi aku tidak datang.

Dan sialnya lagi, aku terlalu bingung memikirkan kado untuk Chiba hingga akhirnya aku lupa membelinya. Argh! Sial! Kenapa aku bisa sekikuk ini!?

Dan satu lagi! Hari ini adalah... 18 November!

Astaga! Aku tidak membawa kado atau apapun untuk diberi. Kecuali... Puding Paman Sou! Ya, benar! Puding yang paling lezat itu mungkin bisa menjadi hadiahku untuknya. Aku yakin Chiba pasti suka sekali dengan puding itu!

 ***

Seperti biasa, usai semua kegiatan di sekolah selesai aku langsung melesat ke kantin tempat di mana Paman Sou berada. Kuharap dia belum pulang dan menyisakan tiga puding untukku.

Sesampainya di sana aku melihat seorang laki-laki dengan celemek putih dan bandana putih di kepalanya yang tidak lain adalah Paman Sou. Sepertinya ia sedang bersih-bersih dan hendak pulang. Aku menghela nafas lega karena dia masih di sana. Dengan segera aku langsung menghampirinya.

“Paman Sou.” Kataku memanggilnya.

“Oh, Aki-chan!” dia tersenyum lebar melihatku datang. “Kenapa kemarin tidak datang? Paman menunggumu sangat lama kemarin.”

“Maaf, paman,” kataku dengan nada penuh penyesalan. “Ada sedikit masalah kemarin hingga aku lupa mengambil pesananku. Sekali lagi aku mohon maaf karena membuat paman menunggu hingga malam.” Aku membungkukkan badan. Menyesal karena telah membuat orang tua yang sangat baik ini pulang terlalu malam. Padahal seharusnya paman bisa pulang lebih awal dan beristirahat yang cukup.

“Ohoho, tidak apa-apa. Itu bukan masalah. Yang penting kau baik-baik saja sekarang.” Dia mengambil tas plastik di lemari esnya. “Karena kukira kemarin kau sakit, jadi paman pulang dan tidak terlalu malam kok.” Dia meletakkan isinya di dalam kotak dan menyerahkannya padaku. “Paman buatkan puding yang kau pesan seperti biasanya hari ini. Hanya untuk berjaga-jaga jika kau datang. Tapi syukurlah kau datang. Hahaha.”

Aku tersenyum senang. Orang tua ini benar-benar sangat baik! “Terima kasih paman. Maaf sudah merepotkanmu.”

 ***

Usai membeli puding, seperti biasa aku langsung menuju ke gedung belakang sekolah. Lampunya masih menyala! Syukurlah dia belum pulang.

Aku melangkah diam-diam sampai aku mencapai depan pintu. Setelah memposisikan diri di balik pintu, aku mengintip ke dalam. Tapi aku tidak menemukan siapa-siapa di sana.

Di mana Chiba dan kawan-kawan? Apa mungkin mereka sudah pulang? Tapi lampunya masih menyala dan pintunya tidak dikunci. Atau mungkin mereka sedang ke toilet? Tapi... Ke toilet bertiga? Mereka tidak homo kan?

Aku mendesah nafas kecewa. Bingung harus melakukan apa, aku pun memutuskan untuk pulang saja. Tapi ketika berbalik, aku dikejutkan dengan kehadiran seseorang di belakangku.

“Chiba-san?” sekarang aku mulai bisa merasakan darahku berhenti mengalir.

“Yoshinaga-san? Apa yang kau lakukan di sini?” katanya sedikit terkejut melihatku. Dia melirik ke arah kotak yang kubawa. Sepertinya dia mulai menyadari sesuatu. “Jadi, selama ini kau yang mengirim puding-puding itu?”

Aku menunduk malu. Rasanya seperti baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah.

“Terima kasih,” katanya. Aku mendongakkan kepala. Kulihat dia menyunggingkan senyum lebarnya padaku. “Kami bertiga sangat suka puding Paman Sou, tapi selalu kehabisan jika ingin beli. Sejak kau mengirim puding-puding itu untuk kami, kami jadi sangat senang sekali.”

Aku tersenyum padanya. Meski aku tidak tahu pastinya aku tersenyum dengan wajah seperti apa. Mungkin sekarang wajahku sudah seperti kepiting rebus? Dan sampai sekarang aku masih saja diam membisu. Aku mungkin terlalu gugup untuk berbicara padanya. Apalagi ini kali pertama aku berbicara langsung di depan seorang Chiba!

“Tapi,” katanya. Aku kembali menatapnya. “Mengapa hanya rasa coklat yang kau beli? Itu kan,” aku melihat pipinya mulai memerah. “Kesukaanku.”

Aku hanya mengangguk. Masih belum bisa berkata apa-apa. Ya, aku memang sudah mencari-cari tahu tentang rasa kesukaannya. Kemudian aku teringat dengan puding yang masih kubawa. Dengan kikuknya aku menundukan kepala dan menyerahkan kotak berisi puding itu. “Selamat ulang tahun,” kataku pelan. Mungkin Chiba tidak akan bisa mendengar suaraku.

Aku tidak bisa melihat wajahnya karena aku terlalu malu. Aku tidak tahu Chiba memasang wajah seperti apa. Tapi tiba-tiba saja Chiba menarik tanganku dan mengajakku masuk ke dalam gedung tempat dia latihan.

Aku mengikutinya saja tanpa menolak. Kemudian dia berhenti di depan tiga buah tas. Dia melepaskan genggamannya dan mulai merogoh tasnya mencari sesuatu. Setelah dia mendapatkan apa yang dicarinya, di berbalik ke arahku dan menunjukkan benda yang baru saja di dapatnya –sebuah teddy bear kecil dibungkus dalam sebuah plastik kado bermotif bunga dan dengan pita mengikat ujung-ujung plastik itu ke atas.

“Selamat ulang tahun, Yoshinaga-san!” seru Chiba dengan senyum mengembang di bibirnya.

Mataku membelalak hebat mendengar apa yang dikatakannya. Bagaimana dia bisa tahu jika hari ini juga ulang tahunku?

“Aku tidak sengaja menemukan biodatamu di buku arsip biodata murid di ruang OSIS.” Jawabnya. Seolah dia tahu apa yang sedang kupikirkan.

Aku masih tidak bisa bicara. Masih terkejut dengan apa yang dia lakukan padaku. Dia mau membuatku mati kehabisan detak jantung ya?

Melihatku yang tampak kaku, dia menaruh teddy bear yang dibawanya dan mengambil kotak puding yang dari tadi ada di genggamanku. Di taruhnya kotak puding itu berseblahan dengan teddy bear-ku.

“Terima kasih atas pudingnya,” katanya dengan senyum yang bisa membuatku mati sedikit lagi. Dan tiba-tiba Chiba memelukku dan berkata, “Aku menyukai Yoshinaga-san. Dan mulai sekarang panggil aku Ryohei, ya?”


Dan hari ini aku merasa benar-benar akan mati karena bahagia...

-FIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar