Minggu, 19 Januari 2014

[FAN FICTION - W-INDS.] November 18th - Oneshoot

Title : November 18th

Chapter : 1 of 1

Genre : Romance, friendship, comedy

Cast : Chiba Ryohei x OC

Author : Kiseki

Disclaimer : 
w-inds. bukan milik author seutuhnya, tapi milik para CREw-inds. di seluruh dunia. Hanya saja Ryohei adalah milik author seutuhnya te-he *dihajar CREw-inds.*

P/S : FF ini reupload dari real facebook Kiseki. Dibuat untuk merayakan ulang tahuny Ryohei yang ke-(?) -mohon maaf author memang pelupa- =="

Happy reading! \(^ o ^)/

Namanya Chiba Ryohei. Laki-laki pendiam itu idola sekolah kami. Meski tidak banyak bicara tapi dia mudah bergaul, memiliki teman banyak dan ramah. Dia bendahara II OSIS, ketua klub dance, punya banyak penggemar, dan teman sekelasku.

Laki-laki ini punya bakat dance yang mengagumkan! Aku pernah mengintipnya sedang latihan break dance dengan teman-teman klubnya. Dan... SUGOI!!! Chiba-san wa kakoi ne~

Hampir saja aku pingsan saat itu! Karena Chiba terlihat benar-benar keren dan mengagumkan! Dan sejak saat itu aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatiku ketika melihatnya. Mungkin aku menyukai Chiba Ryohei?

***

Hari ini sudah mencapai bulan terakhir di musim gugur. Aku suka cuaca seperti ini. Saat di mana daun-daun bewarna merah dan rontok dengan sendirinya. Kebetulan tempat dudukku berada di dekat jendela, jadi aku lebih srering memandang ke luar.

Tapi perbuatanku itu membuat Mouri-sensei menegurku dengan melempar sebatang kapurnya tepat ke arah mejaku. Lamunanku pun buyar.

“Yoshinaga Aki,” panggil Mouri-sensei. “Tolong perhatikan ke depan selama perlajaran.”

“Baik, sensei.” Ucapku.

Memang hal yang biasa bagiku ditegur oleh guru. Tapi yang membuatku tidak biasa dan malu adalah ketika kulihat Chiba Ryohei tersenyum seolah dia menertawaiku. Ya Tuhan!

 ***

“Aki-chaaan!”

Suara melengking yang tidak jauh dari telingaku ini sudah pasti Hanae. Astaga, tidak bisakah dia mengecilkan volumenya?

“Aki-chan, ayo ke kantin!” ajaknya sambil menarik lengan kananku.

“Mau mentraktirku?” kataku.

“Yaah, aku cuma bawa uang pas.” Katanya. Lalu dia menoleh ke arah perempuan berambut pendek berkacamata di belakangku. “Mungkin kalau Mii-chan mau mentraktir kita.”

Mendengar perkataan Hanae, Miki melepas pandangannya dari buku yang dia baca dan menoleh ke arah kami. “Mau memaksaku?”

Aku dan Hanae menelan ludah. Sepertinya Miki sedang bad mood ?

“Ahahaha... Hanya bercanda kok Mii-chan. Mana mungkin aku berani memaksa jawara karate di sekolah ini?” kata Hanae basa-basi.

Tiba-tiba Miki berdiri dengan kasar dari bangkunya dan membuat kami terkejut. Dia berjalan ke arah Hanae dengan wajah datar dan menepuk bahu Hanae. Kulihat Hanae mulai bergidik. Aku mulai sedikit cemas menghadapi orang yang mudah naik darah ini.

“Kalian...” kata Miki. Masih dengan wajah datarnya. “Ayo ke kantin. Kutraktir puding Paman Sou satu-satu.”

 ***

Puding Paman Sou memang puding yang paling enak di sekolah ini. Meskipun harganya sedikit mahal tapi rasanya tak terkalahkan. Tapi yang disayangkan adalah persediaannya. Karena umur Paman Sou yang sudah tua, dia tidak dapat lagi membuat puding sebanyak dulu. Jika kau tidak mau kehabisan, kau bisa memesannya untuk dirimu. Seperti kami yang selalu pesan puding Paman Sou setiap hari.

“Paman,” kata Miki sembari mengambil uang dari dompetnya. “Hari ini aku yang traktir mereka berdua.” Miki menyodorkan uang sejumlah harga puding kami bertiga.

“Hohoho, kalian beruntung telah pesan sehari sebelumnya karena hari ini pudingnya benar-benar sudah habis,” kata Paman Sou sambil membuka lemari es di belakangnya. “Ini, sisa tiga untuk kalian.” Dia menyodorkan tas plastik berisi tiga cup puding pesanan kami.

“Arigatou, jii-san.” Hanae menerimanya dengan senyum lebar di bibirnya. Paman Sou mengangguk.

Selesai membeli puding, kini saatnya mencari tempat duduk yang nyaman untuk makan. Ketika kami hendak berbalik, kami dikejutkan oleh tiga orang laki-laki berdiri di belakang kami. Mereka adalah orang-orang terkenal idola sekolah. Siapa lagi kalau bukan Tachibana Keita, Ogata Ryuichi dan Chiba Ryohei?

Tung... tunggu dulu...

Chiba Ryohei!?

“Paman, pudingnya masih ada?” kata Tachibana.

“Wah, maaf. Itu puding terakhir.” Paman Sou menunjuk ke arah tas plastik yang di bawa Hanae.

“Oh, begitu,” Tachibana mengangguk kecil. “Kalau begitu kami permisi.”

Mereka pun berbalik hendak pergi. Dan ketika Chiba berbalik dia tersenyum ke arahku. Ya, Tuhan! Mimpi apa aku semalam!? Jantungku serasa berhenti dipompa! Nafasku seperti berhenti berhembus! Hingga rasa-rasanya aku tidak bisa membalas senyum manisnya! Dan akhirnya aku hanya bisa menampakkan senyum canggungku. Senyum yang terlihat hanya setengah senyum. Ya, Tuhan! Bodohnya aku! Mengapa aku tidak bisa tersenyum seperti biasanya? Mungkin dia akan menganggap bahwa aku membencinya. Aduh! Gawat!

***

Sekolah sudah usai dan murid-murid sudah pulang ke sarangnya masing-masing. Sekarang mungkin tinggal aku sendiri dan mungkin ada beberapa anak yang masih sibuk dengan kegiatan klubnya?

Aku tidak ada kegiatan klub hari ini. Tidak ada les tambahan. Pelajaran tambahan. Apalagi kegiatan OSIS –karena aku tidak suka mengikuti kegiatan organisasi. Tapi aku punya satu alasan mengapa aku belum pulang.
Aku berjalan menuju kantin. Di sana seseorang dengan celemek putih dan bandana putih di kepalanya menungguku.

“Paman Sou.” Panggilku pada orang itu.

“Oh, akhirnya kau datang Aki-chan. Paman sudah buatkan pesananmu.”

Paman Sou membuka lemari es yang ada di belakangnya. Dia mengeluarkan tiga cup puding. Kemudian dia merogoh lemari mejanya dan mengambil sebuah kotak kardus makanan dan beberapa plastik kecil. Paman Sou membungkus puding itu satu per satu dengan plastik kecil yang diambilnya kemudian memasukkannya pada kotak makanan yang bertuliskan : SOU JII-SAN’S PUDDING; SELAMAT MENIKMATI! ^ワ^

“Silahkan!” katanya sambil menyodorkan kotak berisi pudingnya.

“Terima kasih, paman. Besok aku pesan lagi ya. Tiga dengan rasa yang sama.”

 ***

Usai berkunjung dari tempat Paman Sou, aku pergi ke belakang sekolah. Kulihat sebuah jendela pada sebuah gedung yang masih menyala. Aku mendekatiknya dan mengintipnya dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.

Aku melihatnya, orang itu masih latihan dengan kedua temannya. ‘Orang itu’ sudah pasti Chiba Ryohei, bersama Ogata dan Tachibana. Mereka selalu latihan bertiga setelah anggota lainnya pulang. Tidak heran jika kemampuan mereka melebihi anggota-anggota lainnya.

Karena hari sudah hampir gelap, terpaksa aku harus pulang dan tidak bisa menonton latihannya sampai selesai. Aku meletakkan kotak puding yang kubeli dari Paman Sou di depan pintu. Berharap usai latihan mereka bertiga memakannya. Terutama Chiba-san.

***

Sudah hampir seminggu aku melakukannya –meletakkan puding di depan pintu tempat latihan Chiba dan kawan-kawan. Tentu saja dengan cara diam-diam. Meski terkadang aku harus pulang terlambat, tapi aku senang melakukannya karena aku bisa melihat Chiba latihan.

Tidak ada yang tahu tentang hal ini. Bahkan teman baikku, Hanae dan Miki sekalipun. Bagaimana bisa aku memberi tahu hal ini kepada mereka? Aku mungkin saja akan dianggap stalker dan mungkin jika gadis-gadis dari klub penggemar Chiba Ryohei juga tahu, aku bisa dibakar habis oleh mereka!

Aku menjalankan hari-hari sekolahku sepeti biasa. Dan seperti biasa juga jika aku bertemu dengan Chiba Ryohei, aku tidak bisa tersenyum padanya. Memandangnya saja tidak bisa. Astaga!

Hari ini aku menghabiskan waktu istirahatku di kelas sendiri karena Miki sedang mempersiapkan dirinya untuk lomba karate dan Hanae sedang ada rapat dengan teman-temannya dari klub merangkai bunga. Seperti biasa aku menghabiskan waktuku untuk melihat ke luar jendela. Menikmati tiap daun yang jatuh berguguran.

Ketika aku sedang melamun memandang ke luar, tiba-tiba aku mendengar sesuatu yang entah mengapa terdengar sangat jelas di telingaku. Padahal asal dari sumber suaranya ada di pojok belakang kelasku –kumpulan para gadis penggosip pastinya.

“Eh, kalian ingat tidak besok hari apa?” kata salah seorang gadis.

Teman-teman yang lainnya diam. Mereka saling memandang satu sama lain.

“Iih, kalian itu! Masa kalian lupa?” gadis itu mendengus kesal. “Besok kan hari ulang tahunnya Ryohei!”

Apa? Besok? Ulang tahunnya Chiba Ryohei? Kau bercanda ya?

Gadis-gadis yang lain sepertinya mulai ingat. “Kalau begitu kita harus membuat kejutan untuknya!” Kata seorang gadis lain.

Kejutan? Kau tidak mengajakku, hah?

Mendengar pembicaraan mereka, mungkin sekarang bibirku sudah maju lima senti.

“Ayo kita buat kejutan spesial!” timpal yang lain.

“Ya, ya, ya! Itu benar!”

“Iya! Ayo kita buat!”

Gadis-gadis ini mulai membuatku kesal! Mengapa mereka harus selalu kegatelan sih? Itu sangat menyebalkan! Lebih baik aku keluar dari sini.

Aku pun berjalan keluar kelas, dengan wajah kesal tentunya. Mereka terlalu menyebalkan. Tapi, berkat mereka pula aku jadi tahu kalau tanggal ulang tahun Chiba adalah besok. Tanggal 18 November.

Tunggu dulu! Barusan aku bilang ulang tahun Chiba tanggal 18?

Itu kan...

***

Kemarin aku terlalu memikirkan tentang tanggal 18 November hingga lupa untuk mengmbil puding yang aku pesan dari Paman Sou. Mungkin paman Sou akan sangat marah padaku karena membuatnya menungguku tetapi aku tidak datang.

Dan sialnya lagi, aku terlalu bingung memikirkan kado untuk Chiba hingga akhirnya aku lupa membelinya. Argh! Sial! Kenapa aku bisa sekikuk ini!?

Dan satu lagi! Hari ini adalah... 18 November!

Astaga! Aku tidak membawa kado atau apapun untuk diberi. Kecuali... Puding Paman Sou! Ya, benar! Puding yang paling lezat itu mungkin bisa menjadi hadiahku untuknya. Aku yakin Chiba pasti suka sekali dengan puding itu!

 ***

Seperti biasa, usai semua kegiatan di sekolah selesai aku langsung melesat ke kantin tempat di mana Paman Sou berada. Kuharap dia belum pulang dan menyisakan tiga puding untukku.

Sesampainya di sana aku melihat seorang laki-laki dengan celemek putih dan bandana putih di kepalanya yang tidak lain adalah Paman Sou. Sepertinya ia sedang bersih-bersih dan hendak pulang. Aku menghela nafas lega karena dia masih di sana. Dengan segera aku langsung menghampirinya.

“Paman Sou.” Kataku memanggilnya.

“Oh, Aki-chan!” dia tersenyum lebar melihatku datang. “Kenapa kemarin tidak datang? Paman menunggumu sangat lama kemarin.”

“Maaf, paman,” kataku dengan nada penuh penyesalan. “Ada sedikit masalah kemarin hingga aku lupa mengambil pesananku. Sekali lagi aku mohon maaf karena membuat paman menunggu hingga malam.” Aku membungkukkan badan. Menyesal karena telah membuat orang tua yang sangat baik ini pulang terlalu malam. Padahal seharusnya paman bisa pulang lebih awal dan beristirahat yang cukup.

“Ohoho, tidak apa-apa. Itu bukan masalah. Yang penting kau baik-baik saja sekarang.” Dia mengambil tas plastik di lemari esnya. “Karena kukira kemarin kau sakit, jadi paman pulang dan tidak terlalu malam kok.” Dia meletakkan isinya di dalam kotak dan menyerahkannya padaku. “Paman buatkan puding yang kau pesan seperti biasanya hari ini. Hanya untuk berjaga-jaga jika kau datang. Tapi syukurlah kau datang. Hahaha.”

Aku tersenyum senang. Orang tua ini benar-benar sangat baik! “Terima kasih paman. Maaf sudah merepotkanmu.”

 ***

Usai membeli puding, seperti biasa aku langsung menuju ke gedung belakang sekolah. Lampunya masih menyala! Syukurlah dia belum pulang.

Aku melangkah diam-diam sampai aku mencapai depan pintu. Setelah memposisikan diri di balik pintu, aku mengintip ke dalam. Tapi aku tidak menemukan siapa-siapa di sana.

Di mana Chiba dan kawan-kawan? Apa mungkin mereka sudah pulang? Tapi lampunya masih menyala dan pintunya tidak dikunci. Atau mungkin mereka sedang ke toilet? Tapi... Ke toilet bertiga? Mereka tidak homo kan?

Aku mendesah nafas kecewa. Bingung harus melakukan apa, aku pun memutuskan untuk pulang saja. Tapi ketika berbalik, aku dikejutkan dengan kehadiran seseorang di belakangku.

“Chiba-san?” sekarang aku mulai bisa merasakan darahku berhenti mengalir.

“Yoshinaga-san? Apa yang kau lakukan di sini?” katanya sedikit terkejut melihatku. Dia melirik ke arah kotak yang kubawa. Sepertinya dia mulai menyadari sesuatu. “Jadi, selama ini kau yang mengirim puding-puding itu?”

Aku menunduk malu. Rasanya seperti baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah.

“Terima kasih,” katanya. Aku mendongakkan kepala. Kulihat dia menyunggingkan senyum lebarnya padaku. “Kami bertiga sangat suka puding Paman Sou, tapi selalu kehabisan jika ingin beli. Sejak kau mengirim puding-puding itu untuk kami, kami jadi sangat senang sekali.”

Aku tersenyum padanya. Meski aku tidak tahu pastinya aku tersenyum dengan wajah seperti apa. Mungkin sekarang wajahku sudah seperti kepiting rebus? Dan sampai sekarang aku masih saja diam membisu. Aku mungkin terlalu gugup untuk berbicara padanya. Apalagi ini kali pertama aku berbicara langsung di depan seorang Chiba!

“Tapi,” katanya. Aku kembali menatapnya. “Mengapa hanya rasa coklat yang kau beli? Itu kan,” aku melihat pipinya mulai memerah. “Kesukaanku.”

Aku hanya mengangguk. Masih belum bisa berkata apa-apa. Ya, aku memang sudah mencari-cari tahu tentang rasa kesukaannya. Kemudian aku teringat dengan puding yang masih kubawa. Dengan kikuknya aku menundukan kepala dan menyerahkan kotak berisi puding itu. “Selamat ulang tahun,” kataku pelan. Mungkin Chiba tidak akan bisa mendengar suaraku.

Aku tidak bisa melihat wajahnya karena aku terlalu malu. Aku tidak tahu Chiba memasang wajah seperti apa. Tapi tiba-tiba saja Chiba menarik tanganku dan mengajakku masuk ke dalam gedung tempat dia latihan.

Aku mengikutinya saja tanpa menolak. Kemudian dia berhenti di depan tiga buah tas. Dia melepaskan genggamannya dan mulai merogoh tasnya mencari sesuatu. Setelah dia mendapatkan apa yang dicarinya, di berbalik ke arahku dan menunjukkan benda yang baru saja di dapatnya –sebuah teddy bear kecil dibungkus dalam sebuah plastik kado bermotif bunga dan dengan pita mengikat ujung-ujung plastik itu ke atas.

“Selamat ulang tahun, Yoshinaga-san!” seru Chiba dengan senyum mengembang di bibirnya.

Mataku membelalak hebat mendengar apa yang dikatakannya. Bagaimana dia bisa tahu jika hari ini juga ulang tahunku?

“Aku tidak sengaja menemukan biodatamu di buku arsip biodata murid di ruang OSIS.” Jawabnya. Seolah dia tahu apa yang sedang kupikirkan.

Aku masih tidak bisa bicara. Masih terkejut dengan apa yang dia lakukan padaku. Dia mau membuatku mati kehabisan detak jantung ya?

Melihatku yang tampak kaku, dia menaruh teddy bear yang dibawanya dan mengambil kotak puding yang dari tadi ada di genggamanku. Di taruhnya kotak puding itu berseblahan dengan teddy bear-ku.

“Terima kasih atas pudingnya,” katanya dengan senyum yang bisa membuatku mati sedikit lagi. Dan tiba-tiba Chiba memelukku dan berkata, “Aku menyukai Yoshinaga-san. Dan mulai sekarang panggil aku Ryohei, ya?”


Dan hari ini aku merasa benar-benar akan mati karena bahagia...

-FIN-

[FAN FICTION - W-INDS.] More Than Words - Part 1

Title : More Than Words

Chapter : 1 of 3

Genre : Romance, friendship

Cast :
Tachibana Keita
Ogata Ryuichi
Chiba Ryohei
Tsubakiya Naka (OC)

Author : Kiseki

Disclaimer :
w-inds. bukan milik author seutuhnya, tapi milik para CREw-inds. di seluruh dunia. Hanya saja Ryohei adalah milik author seutuhnya te-he *dihajar CREw-inds.*

P/S : FF ini reupload dari real facebook Kiseki. 

Happy reading~ (^ ^)


“Bi...bisakah kita... mulai lagi? Dari awal?” kata gadis itu gugup. Kedua matanya menatap lurus pada laki-laki di depannya. Mengharapkan sebuah jawaban ‘Ya’.
                “Maaf, aku... menyukai gadis lain.”
***
                Gadis itu lesu. Kepalanya diletakkan di atas bantal besar yang empuk. Matanya terpejam tapi ia tidak tidur. Sesekali dia membuka mata kemudian memejamkan mata lagi.
                “Ini salahku,” katanya sambil mengacak-acak rambutnya.
              “Bukan,” seorang laki-laki berjalan ke arahnya. Kedua tangannya membawa gelas yang berisi limun. “Ini, kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri,” laki-laki itu menyerahkan segelas limun pada gadis di depannya.
                “Ryo, boleh aku menginap semalam?”
             Laki-laki bernama Ryohei itu mengangguk. “Ibu pasti akan senang jika Naka menginap di sini. Tapi,” Ryohei mengambil selembar tisyu dan mengusapkannya pada pipi Naka. “Ibu bisa curiga jika kau basah dengan air mata begini.”
                “Terima kasih,” Naka tersenyum. Dia berusaha menghentikan tangisannya.
                “Mungkin kau harus mandi sebelum ibuku pulang.”
                Naka mengangguk. Dia membuka tasnya dan mengambil handuk serta baju ganti. Naka memang sudah bersiap untuk menginap di rumah Ryohei. Dia ingin bercerita banyak dengan sahabatnya yang satu ini. Sahabatnya yang selalu setia menemaninya dan mendengarkan ceritanya. Sahabat yang selalu bermain bersamanya sejak TK.
                Naka langsung melesat menuju kamar mandi. Dia hafal betul seluk beluk rumah Ryohei sehingga tanpa dipandu pun dia sudah mengerti. Bukan hanya rumah Ryohei, bahkan kamar Ryohei pun dia tahu seluk beluknya. Dia tahu apa isinya, benda-benda favorit Ryohei yang ada di kamarnya dan juga tempat rahasia untuk menyimpan benda-benda rahasia milik Ryohei.
                Begitu sampai di kamar mandi, Naka langsung menanggalkan bajunya dan menyalakan shower. Rasa segar sekaligus nyaman mengucur di tubuhnya. Pikirannya terasa fresh kembali. Tapi tiba-tiba sesuatu mengganggu pikirannya. Dia teringat kembali laki-laki itu. Laki-laki yang dulunya adalah kekasihnya. Keita Tachibana.
                Naka menggelengkan kepala. Berusaha menenangkan pikirannya. Dia ingin menikmati segarnya air. Naka mengambil sabun cairnya dan melumuri tubuhnya. Tapi sekali lagi bayang-bayang Keita muncul di benaknya.
                Naka mendengus kesal. Cepat-cepat dia mengguyur tubuhnya dan mengeringkan tubuhnya. Dia memakai baju ganti yang digantungkannya di dekat cermin. Naka diam sebentar menatap cermin. “Keita Tachibana,” katanya. “Mungkin sampai kapan pun aku tidak bisa melupakanmu.”
                Naka keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar kembali. Dia berjanji untuk tidak menangis lagi setelah ini.
                Naka berjalan menuju ruang tamu. Dia menemukan ibu Ryohei membuka pintu.
                “A~ Naka-chan! Konbanwa!” sapa ibu Ryohei begitu melihat Naka.
                “Konbanwa. Bibi, aku ingin menginap di sini untuk semalam.”
              “Aa~ Ryohei sudah mengirim pesan padaku. Dia sudah kusuruh untuk membereskan kamar depan terlebih dahulu.”
                “Arigatou gozaimasu. Maaf merepotkan bibi.”
                “Tidak, bibi malah senang Naka bisa menginap lagi. Sudah lama Naka tidak menginap di rumah ini. Sekarang, tolong panggil Ryohei untuk makan malam, ya.”
                “Baik, bibi.”
                Naka berjalan menuju kamar depan. Kamar untuk tempat tidurnya nanti. Dia menemukan Ryohei yang sedang menata seprai kasur.
                “Dari dulu kau memang rajin,” Naka menyandarkan dirinya di tembok.
                Ryohei tertawa kecil.
                “Sudahlah, nanti biar kubereskan sendiri. Ibumu memanggil kita untuk makan malam. Sepertinya tadi dia membawa sesuatu untuk makan malam.”
                Ryohei mengangguk, “Sisanya kau bereskan sendiri. Tidak baik seorang perempuan kalah rajin dengan laki-laki.”
                Naka cemberut. Ryohei terkekeh geli. Mereka keluar kamar menuju dapur untuk membantu ibu Ryohei mempersiapkan makan malam. Benar dugaan Naka, ibu Ryohei membawa sekotak sushi yang paling enak di kota itu. Air liur mulai membasahi mulut mereka.
Mereka makan besama diselingi dengan bercerita. Ibu Ryohei memang sangat merindukan Naka menginap kembali di rumahnya. Terakhir kali Naka menginap ketika Naka dan Ryohei masih kelas lima SD. Saat itu orang tua Naka mendapat tugas ke luar kota dan keluarga Naka menitipkannya pada keluarga Chiba.
Usai mereka makan malam, Ryohei dan Naka membantu ibu Ryohei membereskan meja. Ryohei membuka lemari dapur atas, dia mengambil dua bungkus kripik kentang dan dua kaleng soda. Ibu Ryohei langsung tahu bahwa setelah ini mereka akan begadang sampai tengah malam.
“Usai bermain, jangan lupa membersihkan sampah-sampah kalian, ya,” kata ibu Ryohei.
“Hai, wakarimashita,” jawab Naka dan Ryohei bersamaan.
Ryohei dan Naka berjalan berdampingan menuju ruang keluarga. Sesampainya di sana, mereka menyalakan televisi dan playstation. Beberapa menit kemudian, jari-jari mereka mulai menari di atas tombol.
“Jadi,” Ryohei memulai pembicaraan. “Dia benar-benar tidak mau memulainya dari awal?”
“Ya,” jawab Naka singkat. Pandangannya masih terpaku pada game yang mereka mainkan.
“Kenapa?”
“Sudah ku katakan, dia menyukai perempuan itu.”
“Kau tidak mencoba untuk meminta satu kesempatan lagi?”
Naka diam.
“Kenapa tidak meminta?” Ryohei mendesak Naka untuk menjawab pertanyaannya.
“Keita benar-benar suka pada Mihane.”
“Jadi, kau menyerah begitu saja?”
“Tidak. Mungkin sih.”
Terdengar jawaban ragu dari Naka. Dia merasa tidak boleh memaksakan perasaannya pada Keita. Tapi sebagian dari dirinya berkata bahwa dia harus mencoba sekali lagi untuk mendapatkan hati Keita.
Mereka diam beberapa saat.
“Lagi pula,” kali ini Naka yang memulai pembicaraan. “Mihane lebih baik dari pada aku.”
Ryohei menggeleng. “Kau salah. Jika kau tidak baik, Keita tidak akan menjadikanmu kekasihnya.”
“Itu dulu,” suaranya mulai terdengar parau. “Sebelum... sebelum kecelakaan itu terjadi.”
Naka diam. Dia memandangi tokoh pilihannya yang kalah babak belur dari Ryohei. Tiba-tiba dia teringat kecelakaan itu. Kecelakaan yang membuat Keita hilang ingatan. Kecelakaan itu membuat Keita tidak ingat bahwa Naka adalah kekasihnya. Bahkan dia tidak ingat siapa itu Naka.
Kecelakaan itu sudah sebulan berlalu. Semua berawal karena Naka yang berjalan menghampiri seekor anak anjing di tengah jalan. Tiba-tiba mobil dengan kecepatan penuh melintas dan Keita yang ingin menyelamatkan Naka pun menjadi korbannya.
Keita sempat hilang ingatan dan tidak mengenali teman-teman bahkan keluarganya. Tapi sekarang dia sudah dapat mengenali keluarganya. Dia ingat sebagian nama teman-temannya. Dan di saat Keita sudah dapat mengingat Naka, Naka memintanya untuk memulai hubungan mereka dari awal lagi. Tapi, Keita ternyata menyukai Mihane. Sahabat Naka di perkuliahan.
“Ini salahku. Mungkin Keita sekarang membenciku karena telah membuatnya menderita,” Naka meletakkan stik playsationnya. Kepalanya disandarkan pada sofa.
Ryohei menghela nafas. “Untuk masalah cinta kau memang selalu pesimis. Aku benci melihat Naka yang seperti ini,” Ryohei melipat tangannya di depan dada.
“Aku juga benci aku yang seperti ini,” Naka menutup mata. Ingin rasanya dia menangis. “Kau mungkin belum pernah merasa seperti ini.”
Ryohei mengusap kepala Naka, “Aku belum merasakan hal sepertimu tapi aku juga pernah jatuh cinta.”
Naka menjatuhkan kepalanya di pundak Ryohei. Wajahnya lesu. “Aku lelah, Ryo. Aku menyerah. Mihane lebih cantik dariku, lebih pintar dan dia bisa pekerjaan perempuan. Mihane lebih lembut. Dia cocok untuk Keita.”
“Tapi Mihane tidak sekreatif kau. Kau lebih banyak mendapatkan penghargaan dari pada Mihane. Baju-baju rancanganmu sekarang menjadi tren remaja saat ini padahal kau masih mahasiswa.”
Naka tersenyum. Wajahnya memerah. “Terima kasih.”
Mereka diam. Ryohei masih mengusap kepala Naka. Tiba-tiba ibu Ryohei datang membawakan selimut.
“Kalian masih tetap akrab seperti dulu. Seperti kakak dan adik saja, ya?”
Ryohei tersenyum. “Naka kan sudah diresmikan sebagai bagian dari keluarga Chiba, sebagai adikku yang paling manis.”
“Aku bukan rainbow cake!”
Mereka pun tertawa.
***
Naka melangkahkan kakinya memasuki gerbang unversitas Tokyo. Kedua tangannya membuka sebuah buku tebal. Pandangannya menatap lurus pada buku yang sedari tadi dibacanya. Dia melangkah pelan.
Meski sudah melangkah dengan pelan tetap saja dia menabrak sesosok tubuh di depannya.
“A~ Su..sumimasen,” punggungnya membungkuk dalam. Pertanda dia meminta maaf dengan sangat.
“Iie, Tsubakiya-san.”
Mendengar suara orang yang berada di depannya, jantung Naka berdegup kencang. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Naka mengangkat kepala. Matanya melotot begitu menemukan siapa pemilik suara yang begitu familiar baginya.
Keita Tachibana.
“Ke..i..ta?”
Naka mulai gugup. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan Keita katakan. Hati Naka mulai terasa sakit. Laki-laki itu sekarang memanggilnya dengan nama keluarga. Nama keluarga!? Ini semua terkesan seolah-olah mereka baru saja berkenalan dua hari yang lalu. Padahal sebelumnya Keita memanggilnya dengan nama depan. Naka atau Naka-chan.

Laki-laki itu tersenyum tipis kemudian pergi. Lagi. Hati Naka terasa sakit lagi. Matanya berputar mengikuti laki-laki itu pergi. Tanpa disadari, buku yang di bacanya terjatuh. Tidak lama kemudian air matanya ikut terjatuh.

-tsuzuku-